And ingin sukses ?

Sukses adalah sebuah keputusan yang diambil dengan melakukan tindakan, dan dalam melakukan tindakan perlu keberanian untuk memutuskan, dan yang namanya keberanian adalah bagian daripada iman.

Tahukah anda yang namanya iman, percaya dan yakin akan kekuatanNya begitu juga dengan kesuksesan seseorang harus ditimbulkan lebih dulu bahwa kita bisa sukses, dan harus sukses. Dibisnis Network Marketing seperti Tianshi Group International kesuksesan itu dibangun berdasarkan suksesnya orang lain yang kita bantu, dan ini tidak sendiri tapi bersama-sama dengan kemauan yang sama, visi yang sama dan misi yang sama yaitu menggapai kehidupan dimasa depan yang lebih mapan.

Kekurangan manusia terkadang belum melakukan sudah mengatakan, dan ada pula yang belum maksimal melakukan tapi sudah memvonis diri saya tidak bisa dan saya tidak sanggup, padahal didalam diri manusia itu sendiri ada kekuatan besar yang tersembunyi yaitu alam bawah sadar kita yang belum atau bahkan tidak kita fungsikan secara maksimal.

Jadi tunggu apalagi, apakah kita cukup puas atau bahkan sudah merasa puas dengan keadaan diri saat ini ?

“Dan janganlah kamu merasa hina dan janganlah kamu bersedih padahal kalianlah yang paling tinggi jika kalian beriman”. (Ali Imran : 139)
“Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak orang berputus asa itu melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf : 87)
Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa”
Dalam kelelahan, ketegangan dan kekalutan, kaum muslimin masih memiliki secercah harapan meraih kemenangan. Itulah yang terjadi pada saat kaum muslimin dikepung oleh pasukan Ahzab. Bahkan dalam situasi yang menegangkan dan jauh dari perhitungan untuk menang itu, mereka masih berkata:
“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Maha Benar Allah dan Rasul-Nya. Tidaklah bertambah dalam diri mereka kecuali keimanan dan kepasrahan pada Allah swt.”
Dalam kesiapan penuh, menghadapi kepungan musuh dan kondisi medan yang begitu berat, Rasulullah saw. memompa semangat dengan menjanjikan bahwa mereka akan dapat menundukkan Romawi, Persia, Iskandariyah dan negeri-negeri lainnya.
Akhirnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan pada perang Ahzab tersebut tanpa pecahnya peperangan lazimnya, dan Allah swt. membuktikan janji-Nya menaklukkan negeri-negeri besar pada masa pemerintahan Umar bin Khathab RA.
Perjalanan hidup umat teladan, hendaknya menginspirasi aktifitas yang kita lakukan saat ini. Betapa banyak pengalaman mereka dapat kita jadikan cermin hidup agar rambu-rambu perjalanan menjadi jelas dan terang. Seperti jelasnya perjalanan generasi terbaik dalam sejarah umat ini sehingga mereka mendapatkan harapannya di dunia dan akhirat tanpa takut kerugian sedikit pun.
Kemenangan umat terdahulu banyak kita temukan bermula dari optimisme yang tinggi untuk meraih kemenangan. Optimisme yang stabil menghantarkan mereka cepat atau lambat menuju kegemilangan. Karena optimisme bagian dari kemenangan itu sendiri. Baik kemenangan di dunia ataupun di akhirat.
Bahwa mereka bersama Allah swt. Dengan kebersamaannya itulah mereka meyakini perbuatannya, proses dan prosedurnya serta keberhasilannya mencapai kesuksesannya.
Dengan optimisme itu segala yang berat menjadi ringan, yang susah menjadi mudah dan yang rumit menjadi sederhana.
Ketika optimisme sudah merasuk ke jiwa maka dorongan besarlah yang muncul, dorongan untuk melakukan sebuah cita-cita agar meraih kejayaan. Ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah saw.:
“Bagaimana nasib saya bila maju ke medan peperangan yang sedang berkecamuk itu’, beliau menjawab: ‘kamu akan mendapatkan syurga’ maka sahabat itu segera maju ke depan bahkan membuang kurma yang sedang dikunyahnya seraya bergumam: ‘ini akan memperlambat saya mendapatkan syurga.”

Subhanallah begitulah sebagian dari kisah generasi teladan.
Saat optimisme membumbung tinggi dalam sanubari seorang mukmin, ia akan bergerak, bersikap, berjalan dan berkorban meskipun ia belum tentu dapat merasakan nikmatnya kemenangan. Karena sesungguhnya, dengan jiwa optimis itu mereka sudah mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Paling tidak ia terdorong untuk memberikan sumbangsih mulianya demi keyakinan yang ia imani. Ia berharap agar Allah swt mencintai sikapnya dan ridho dengan perjuangannya.
Saat ini, hal-hal yang menghadang perjalanan kita menuju kejayaan amatlah banyak. Rintangan, gangguan cobaan datang silih berganti. Baik yang datang dari eksternal maupun internal umat, bahkan yang muncul dari diri sendiri. Sepertinya mereka tidak pernah lelah dan berhenti. Mereka tidak menghendaki kemenangan ada di tangan kita. Apabila kita pun lelah dan jenuh menghadapinya, maka selamanya kita tidak akan pernah mencicipi rasa kemenangan itu.
Tatkala kita lelah, muncul bisikan-bisikan nista sambil mengatakan untuk apa berkorban. Apakah pengorbanan yang kamu lakukan akan kamu dapati hasilnya? Apakah pengorbanan itu akan kita rasakan. Jangan-jangan kita yang berkorban malah orang lain yang menikmatinya?
Dan sedihnya lagi apa yang sudah kita lakukan akan dipungkiri dan digugat. Mereka juga akan menutup mata pada apa yang kita perbuat.
Bisikan-bisikan ini sering kali mampir di telinga kita. Seakan-akan mereka ingin menyetop lajunya langkah kaki-kaki kita.
Imam Hasan Al Banna berpesan kepada kita:
“Janganlah kalian berputus asa karena putus asa bukanlah akhlak muslim. Sesungguhnya realita hari ini impian kemarin dan impian hari ini adalah realitas hari esok.”
Gangguan yang menggelayuti kita mesti kita hadapi, karena kita mempunyai iman, kita mempunyai keyakinan dan kita bersama keberkahan Allah swt. Dan itu berangkat dari jiwa optimis yang ada dalam diri kita.

Marilah kita hayati dan yakini sabda Rasulullah saw.

Di saat menghantarkan para sahabat dalam perang ahzab:
“Berangkatlah kalian dengan keberkahan Allah, maka kalian akan menang.”

Berbagi tidak selalu dengan materi anda membantu orang lain sukses dengan memberikan informasi apa VISI anda dan bekerja sama adalah salah satu bentuk kepedulian anda dengan lingkungan sekitarnya.

Semoga apa yang menjadi cita-cita kita bersama menjadi “orang-orang inti yang peduli” menjadi terbukti, membangun Negeri tercinta ini dan memberikan bukti bahwa kita memang sebagai warga yang peduli dan menjadi kebanggan negara sebagai Leader-Leader Besar Tianshi didunia dengan menyumbangkan diri sebagai contoh dan panutan Leader Tianshi  Dunia dari Indonesia yang dapat menjadi contoh.

Memang baik menjadi orang penting tapi jauh lebih penting menjadi orang baik.
Dan anda pernah mengatakan bahwa “kalau kita tidak mampu siapa yang mau membantu, tapi kalau kita kita mampu siapa yang mau kita bantu”. Negara masih memerlukan kita untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita adalah salah satu warga negara terbaiknya.

Tetap semangat and Go Freedom

Unicoreunicare@gmail.com

Orang yang sukses bukan hanya karena memiliki IQ yang tinggi, atapun EQ yang baik tetapi haruslah didukung oleh SQ yang baik.

“Memang baik jadi orang penting tapi jauh lebih penting jadi orang baik”, tapi bagaimana menjadi orang baik yang penting dan orang penting yang baik, itulah yang kita bangun dibisnis ini.

Karena apabila kita telah menemukan arti “mengapa” kita melakukan tindakan, bukan tentang “apa” ataupun “bagaimana” kita melakukan tindakan, maka itulah kita telah menemukan yang namanya “kecerdasan emosional” atau SQ

In business, the orientation is profit. In faith, the orientation is living according to God’s will. In business, people talk about getting as much as possible and in faith people talk about giving as much as possible“.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.